Kenegerian Baturijal terdiri dan dua kampung, yaitu Baturijal Hulu dan Baturijal Hilir. Masing-masing mempunyai Penghulu.
Struktur kenegerian dan kepenghuluan ini tidak sesuai dengan struktur
kepemerintahan Republik Indonesia, sehingga dihilangkan. Hanya ada 4
orang yang sempat menjadi Wali Negeri, yaitu; Khalil Alie, Mohamad Nuh,
Raja Eman dan Saidina AH. Setelah itu, tidak ada lagi jabatan Wali
Negeri. Sedangkan kampung Baturijal yang dimaksudkan dalam buku ini,
adalah Baturijal secara keseluruhan, eks Kenegerian Baturijal, mencakup
Baturijal Hulu dan Baturijal Hilir.Baturijal yang berada di tepi Batang
Kuantan itu, mempunyai batas wilayah sebagai berikut:
a. Batas wilayah Baturijal Hulu yaitu: - Sebelah Utara berbatasan
dengan Kab. Kampar dan Pelalawan. - Sebelah Selatan berbatasan dengan
Desa Silunak Kec. Peranap. - Sebelah Barat berbatasan dengan Desa
Pesikaian Kec. Cerenti. - Sebelah Timur berbatasan dengan Baturijal
Hilir Kec. Peranap. b. Batas wilayah Baturijal Hilir yaitu: - Sebelah
Utara berbatasan dengan Kab. Kampar dan Pelalawan. - Sebelah Selatan
berbatasan dengan Desa Silunak Kec. Peranap. . - Sebelah Barat
berbatasan dengan Baturijal Hulu Kec. Peranap. - Sebelah Timur
berbatasan dengan Kelurahan Peranap.
Di kenegerian Baturijal ini ada tigapulau, merupakan timbunan pasir
di tepi Batang Kuantan, yaitu; Pulau Baru, Pulau Jambu dan Pulau Raman.
Karena Pulau Raman berada di tengah Batang Kuantan, disebut juga Pulau
Tengah. Pulau ini ada ketika ayek usak (air dangkal) pada musim kemarau.
Pada waktu ayek dalam, pulau-pulau dimaksud tenggelam. Pulau ini begitu
luas, panjangnya mencapai 500 meter bagian paling lebar mencapai 100
meter, dapat dijadikan lapangan bermain sepak bola.
Selain pasir, ada juga bebatuan. Sedangkan lokasi yang banyak batu -
besarnya sekitar kepalan-kepalan tinju, hanya di sekitar Gaung Kecil,
sebelah hulu di tebing tinggi sedangkan sebelah hilir sampai ke Gaung
Besar. Batu ini tidak ada di tempat lain. Konon di tengah Batang
Kuantan, tidak jauh dari Gaung Kecil dekat tebing tinggi yang penuh
kaghak, ada sebuah batu besar, seperti "induk" batu-batu tadi. Garis
tengahnya melebihi satu meter. Batu itu dipercayai "hidup", namun diam
tidak bergerak. Batu itu setia sampai hijau berlumut menunggu lubuk
-tempat paling dalam. Tempat ini merupakan perbatasan antara Baturijal
Hulu dan Baturijal Hilir.
Diceritakan pula bahwa batu hijau berlumut itu pernah bertarung
dengan batu yang datang dari Jambi. Begitu perkasanya, menyebabkan batu
yang datang dari Jambi sempat patah. Batu yang ada di Baturijal
merupakan batu perkasa.
Berdasarkan kata-kata, Baturijal terdiri dari batu dan rijal. Batu
dikaitkan dengan batu besar yang berada di Gaung Kecil itu. Sedangkan
rijal dari bahasa Arab, rijaalun, berarti laki-laki. Baturijal berarti
batu jantan. Kalau ada batu jantan, tentu ada batu betina. Sampai
sekarang belum ada penjelasannya, kalau memang ada, di mana batu betina
itu berada.
Ditinj au dari sudut bahasa, dialek Baturijal mempunyai kemiripan
dengan dialek Jambi, mungkin yang memberi nama Baturijal adalah
pendatang dari Jambi, penduduk dari desa yang juga bernama Baturijal.
Selain dialek, khsususnya dalam melafazkan huruf R yang sama, ada
kata-kata yang sfecifik, tidak dijumpai di tempat lain kecuali di Jambi,
yaitu kata ganti Ngan dan Kan. Penggunaan Ngan dan Kan ini menimbulkan
keyakinan bahwa penduduk Baturijal, berasal dari Jambi. Untuk mengenang
daerah asal, maka mereka member! nama Baturijal pula di tempat yang baru
mereka menetap.
Melihat Baturijal secara geografis, memang dekat dengan wilayah
Jambi. Kabupaten Inderagiri, berbatasan langsung dengan Jambi, sedangkan
Baturijal hanya di tengahi oleh Silunak, Pematang. Silunak sendiri
sudah berbatasan dengan Jambi. Kemungkinan penduduk Baturijal merupakan
pendatang dari Jambi sangat besar. Konon memang ada nama desa di Jambi
itu bernama Baturijal. Mereka yang berasal dari Baturijal itulah yang
memberi nama tempat tinggal mereka yang baru dengan nama Baturijal.
Pendatang di Baturijal, bukan dari Jambi saja. Juga dari etnis Jawa.
Mereka banyak dijumpai di Baturijal Hilir, tepatnya dekat Gertak
Templong, di bawah legheng Peta. Mereka masih menggunakan adat istiadat
Jawa. Penduduk desa Baturjal mengenal pecal, dari mereka ini. Sebelumnya
tidak kenal apa itu pecal. Padahal bahannya di Baturijal itu sangat
banyak, seperti kacang panjang, nangka muda, pucuk ubi, kangkung
danpelayau.
Seperti halnya di Lampung, terutama di Lampung Tengah dekat kota
Metro, kita akan menemukan suasana seperti sedang berada di kota Tegal,
Jawa Tengah. Suasana waning, adat istiadat dan bahasanya menggunakan
bahasa Jawa, dialek Tegal. Sebagai daerah tujuan transmigrasi, nama-nama
kota di Lampung banyak yang sama dengan nama kota-kota di pulau Jawa.
Mungkin, nama Baturijal juga demikian. Meskipun menurut Islam, nama itu
sangat penting, tetapi penduduk Baturijal sendiri tidak mempermasalahkan
dari mana asal muasalnya. Apalah arti sebuah nama.
Dari kata Baturijal, batu berkonotasi keras, sedangkan laki-laki
berarti menjadi pemimpin, bersifat jantan, bersikap keras. Dari
kata-kata jantan ini dikait-kaitkan, penduduk desa Baturijal bersifat
dan berkemauan keras, berani serta bertanggung jawab. Keberanian itu
menyebabkan banyak yang merantau.
Baturijal adalah sebuah dusun kecil di Wilayah Onderdistrick van
Peranap terletak di tepi Batang Kuantan Onderdistrick Peranap ibukotanya
Peranap tempat kedudukan Sutan Muda, wakil Raja Indragiri (Sultan
Mahmud Syah) berkedudukan di Rengat.
Baturijal adalah salah satu desa dari Tiga Lorong (tiga negeri)
terdiri dari desa Batirijal Hulu, Baturijal Hilir, dan Pematang/Selunak.
Desa Tiga Lorong ini adalah sebuah wilayah yang diberikan oleh Sultan
Indragiri atas jasanya menentang Raja Dubalang yang ingin menaklukan
Indragiri (pada waktu itu) yang datang dari daerah Sumpur Kudus (Sumatra
Barat). Oleh karena itu, para pemimpin Baturijal sangat disegani oleh
Sultan Indragiri.
H. Harmaini Yusuf menulis untuk buku Sejarah Muhammadiyah Provinsi
Riau cetakan ke-2, menyebutkan asal usul nama Baturijal. Konon menurut
Konsel Muhammadiyah Indragiri Dr. Umar Amin Husin dari Taluk Kuantan
pada waktu itu (1936), nama "Baturijal" berasal dari Bahasa Arab yaitu
bait dan rijal, yang berarti tempat bermukimnya para pemimpin.
Pernyataan Umar Amir Husin dari Taluk Kuantan tersebut dikuatkan oleh
pernyataan H. Darwis Rauf (1956) yang merupakan kepala KUA Kecamatan
Peranap.
Ciri khas masyarakat Baturijal itu adalah sangat keras terhadap
kezaliman (Ibarat seperti batu) dan Junak seperti bubur kalau sudah
berhadapan dengan kebenaran dan keadilan, terbuka, toleran, dan suka
bergaul.
Mata pencaharian pokok masyarakatnya ialah berkebun karet, bersawah,
dan menangkap ikan. Kebun karetnya sangat luas dan hasilnya lumayan.
Antara tahun 1935-1940 banyak masyarakatnya menunaikan Rukun Islam yang
ke-5 yailu naik haji ke Mekah al Mukaromah. Masyarakatnya beragama Islam
bermazhabkan Syafi'iyah, pelaksanaannya bercampur aduk dengan adat
istiadat turun temurun. Penyakit TBC merajalela (Taqlid, Bid'ah,
Churafah), pengetahuan agama sangat dangkal dan tertutup bagi
pembaharuan.
Ada hubungan khusus antara Baturijal dengan Kerajaan Inderagiri,
menarik untuk dikaji. Sebuah kerajaan Minangkabau bernama Pagaruyung,
tidak berbeda dengan kerajaan-kerajaan lain, ingin memperluas
kekuasaannya. Di bawah pemerintahan Sultan Muning (1720 -1770) sangat
bernafsu mengembang wilayah kekuasaan ke daerah lain. Tersebutlah Datuk
Rajo Dobalang di bawah kekuasaan Raja Pagarruyung, melakukan ekspansi ke
arah timur yaitu ke wilayah Kuantan. Datuk Rajo Dobalang ini terkenal
kezalimannya. Suka meramaikan perjudian dan sabung ayam, melarikan
isteri orang dan anak-anak gadis untuk memuaskan hawa nafsunya. Rakyat
cemas dan ketakutan, namun tak dapat berbuat apa-apa.
Raja Inderagiri waktu itu Raja Hasan bergelar Sultan Salahuddin Syah
(1735 - 1765) yang berkedudukan di Pekan Tua, ada juga yang menyebutkan
di Kota Lama, gusar mendengar tingkah polah Rajo Dobalang yang zalim
itu. Raja Inderagiri khawatir, Rajo Dobalang sampai ke Inderagiri akan
mengganggu ketenteraman rakyatnya yang aman dan damai. Untuk
mencegahnya, Raja mudik menuju Peranap. Di Peranap menemui
Penghulu-penghulu sekitarnya minta dicarikan hulubalang untuk
menghentikan ekspansi Rajo Dobalang. Begitu perkasanya, sampai ke Teluk
Kuantan, Baserah dan Cerenti, Rajo Dobalang tidak mendapat perlawanan.
Rajo Dobalang, dengan leluasa menguasai dan menjarah wilayah itu. Rajo
Dobalang semakin ganas, bemafsu untuk meneruskan ekspansinya ke Kerajaan
Inderagiri. Setelah Cerenti, selangkah lagi, sampai di Baturijal. Hati
penduduk Baturijal pun bangbok, penuh kekhawatiran, gegham, takut dan
benci luar biasa, bercampur baur terhadap Rajo Dobalang dari Minangkabau
yang zalim.
Dalam pencarian hulubalang, Penghulu-penghulu itu sampai ke Simpang
Kiri, menemukan serpihan-serpihan tarahan kayu. Berarti di situ ada
kehidupan. Akhirnya, Penghulu pun bertemu dengan Tiga Beradik yaitu;
Tiala dengan Saudaranya bernama Sabila Jati serta kemenakannya yang
bemama Jo Mahkota. Tiga Beradik ini sebenarnya berasal dari Batu Jangko
yang disuruh oleh Datuk Kibaya untuk merantau. Misinya untuk mencari
wilayah berair yang jernih dan ikan yang banyak.
Dalam perjalanan melalui Padang Lawas, Tiga Beradik sampai ke Ibul
Jundung, lalu turun ke Pangkalan hingga sampai di pasir Koto Simbung
(Siambung). Kemudian Tiga beradik itu berhenti dan mencari damar sambil
membuat-membangun-Koto Simbung. Di Koto Simbung inilah mereka ditemui
oleh Penghulu-penghulu sebagai utusan Raja Inderagiri untuk mencari
hulubalang.
Penghulu menceritakan maksud Raja Inderagiri untuk~ menghentikan
gerakan Rajo Dobalang. Hati nurani Tiga Beradik terusik, terhadap
kebatilan Rajo Dobalang. Mereka berjanji akan datang menghadap raja 3
hari kemudian, setelah melakukan mufakat terlebih dahulu. Setelah 3
hari, Tiga Beradik memenuhi j anj inya menghadap Raj a sekaligus
menyatakan kesediaannya. Raja merasa puas, langsung menanyakan kapan
berangkat. Tiga Beradik pun menjawab: "Menunggu perintah tuanku. Bila
cukup syaratnya oleh tuanku, kami Tiga Beradik berangkat." Sekarang
giliran Raja minta tunggu 3 hari untuk mengumpulkan para Menteri dan
rakyat, berpesta dulu sambil menyiapkan perbekalan.
Ketika Tiga Beradik ditawarkan apa yang diperlukan, mereka menjawab:
'Wan tuo mengambil dulu seekor ayam sabung rupa-rupanya betina, tuahnya
"Cahaya negeri". Dua buah keris bersarung emas, buatan Mojopahit
tuahnya, "Senang hati". Nan Tengah: mengambil pedang Jawi, hulunya
bertahta intan yang bertuliskan Muhammad, tuahnya "Bintang negeri". Nan
Kecik. mengambil /ew&zngbersarung dengan mas suasa serupa, tuahnya
"Pelepas utang".
Kemudian Tiga Beradik itupun berangkat dengan perahu, serta tukang
kayuhnya sebanyak 12 orang, menemui Rajo Dobalang di Sibuai Tinggi.
Setelah bertemu, Tiga Beradik ditantang menyabung ayam di gelanggang
oleh Rajo Dobalang. "Apa larangan dan pantangannya?", tanya Tiga
Beradik. "Pertama bersorak dan bertepuk tangan. Kedua memekik dan
menghantam tanah. Ketiga menyingsing lengan baju. Dan keempat memutar
keris ke depan," jawab Rajo Dobalang.
Apabila melakukan semua larangan itu, dianggap kalah. Tiga Beradik
bertanya lagi: "Berapa tarahannya ?" Jawab Rajo Dobalang: "Tanah Inuman
di sebelah kiri mudik sungai Indragiri, lebar, dan panjangnya sehabis
pemandangan di gelanggang di Sibuai Tinggi." Sedangkan Tiga beradik
menyebutkan taruhannya: "Tanah danau Koto Simbung di sebelah kiri mudik
sungai Indragiri lebar dan panjangnya penghabisan pemandangan di
gelanggang di Sibuai Tinggi. Kata Rajo Dobalang: "Kapan kita menyabung?"
"Terserah tuanku," jawab Tiga Beradik. Kemudian Rajo Dobalang
menetapkan: "Dua hari yang ketiga, sebab kami mengumpulkan rakyat, hari
ketiga kita menyabung."
Pada hari yang telah ditentukan berkumpullah Penghulu-penghulu dan
rakyat di tempat gelanggang. Rajo Dobalang dengan congkaknya melepas
ayamnya. Sampai dua kali kelepou yang ketiga, ayam Tiga Beradik itu
kalah dan kena dulu, kepaknya sebelah kiri patah. Melihat ayam Tiga
Beradik itu kena dulu, sampai tiga kali kelepou, ramailah sorak Rajo
Dobalang dengan rakyatnya di tempat gelanggang. Kelepou yang keempat,
ayam Rajo Dobalang kena, lehemyahampir putus, hingga tidak kuat lagi
melawan.
Melihat ayamnya kalah, Rajo Dobalang marah-marah dan warna mukanya
menjadi merah padam, sampai memekik, menghantam tanah, menyingsing
lengan baju, memutar kens ke depan terus menikam Tiga Beradik sampai dua
kali. Berarti sudah melanggar pantangan dan dianggap kalah. Tiga
beradik mengelak sambil memberi pantun, "Litak nek begalah, cubo-cubo
mengaleh. Litak nek mengalah di cubo membaleh". Pertarungan berlanjut.
Nan tuo dulu menikam, Raja Dobalang terus tagolek. Disambut adik Nan
tengah, dicincang terus jatuh ke tanah. Disambut yang kecil, ditikam
sampai mati.
Melihat sudah tidak bernyawa lagi, kepala Rajo Dobalang di potong
oleh adik yang tengah dimasukkan ke dalam peti untuk dibawa pulang.
Kepala Rajo Dobalang dibawa Tiga Beradik itu turun ke perahu. Sampai di
perahu dilihat kembali oleh Tiga Beradik itu, nasib digerakkan Allah.
Berani karena benar, takut karena salah. "Maka lihatlah bagaimana akibat
orang-orangyang zalim ". (Q.S. Al Qashash, 28; 40)
Setelah Rajo Dobalang tewas oleh Tiga Beradik, Raja dan
Penghulu-penghulu Kuantan merasa senang dan gembira. Mereka menahan Tiga
Beradik untuk merayakan kemenangan dengan berpesta selama 8 hari.
Karena terlalu lama, dikabulkan hanya 4 hari saja. Tiga Beradik ingin
segera menghadap Raja Inderagiri untuk menyerahkan kepala Rajo Dobalang.
Atas jasanya, Tiga Beradik diberi selembar bendera kehormatan dan nama,
Datuk Mangkuto.
Selelah hilir mengikuti arus sungai Inderagiri, sampailah di tepian
raja di Pekan Tua. Kepala Rajo Dobalang di dukung dengan kain belacu
putih oleh nan kecil. Sampai di Istana dipersembahkanlah kepala tersebut
kepada raja. Bukan main banyak orang melihat di Istana sambil berdecak
kagum. Kepala Rajo Dobalang berpusing-pusing waktu dilihat raja di
Istana.
Yang Dipertuan Besar Inderagiri menawarkan kepada Tiga Beradik di depan para Menteri apa yang mereka sukai sebagai balas jasa.
"Apakah uang atau emas?" Mereka sebenarnya ikhlas untuk membantu,
tidak mengharapkan balas jasa. Setelah didesak beberapa kali, dijawab
oleh Tiga Beradik: "Sesuatu yang tidak lekang karena panas dan tidak
lapuk karena hujan." "Baiklah," jawab Raja." Dalam tempo 8 hari raja dan
para Menteri serta orang-orang tua kampung mengadakan rapat
membicarakan perihal permintaan Tiga Beradik itu. Para Menteri dan
orang-orang tua digerakkan Allah pikirannya, masing-masing sepakat
mendapatkan jawabannya; "Kepada Tiga Beradik itu di beri pangkat".
Dengan upacara kerajaan dan pesta, kepada Tiga Beradik diangkat
menjadi Penghulu Tiga Lorong dan diberikanlah pangkat: Nan tua
saudaranya yang bernama Sabila Jati, diangkat Dana Lelo, Penghulu
Pematang lawan ke Batang Hari, benderanya hitam kumia Raja Inderagiri.
Nan tengah kemenakannya Jo Mahkota, Penghulu Baturijal Hulu lawan ke
Kuantan benderanya merah kurnia Raja hideragiri dan bendera hitam kurnia
raja Kuantan. Nan kecil anaknya bemama Tiala diangkat Lelo Diraja,
Penghulu Baturijal Hilir lawan sungai Indragiri benderanya putih kurnia
Raja Inderagiri.
Dalam cerita lain, Tiga Beradik itu diberi gelar Datuk, gelar
kebesaran orang Melayu, yaitu:Datuk Denang Lelo menjadi Penghulu
Pematang,Datuk Jomangkuto Penghulu Baturijal Hulu, dan Datuk Lelo Dirajo
Penghulu Baturijal Hilir.
Sebagai Penghulu Tiga Lorong, mereka diangkat sebagai anak Mas Raja
dan Datuk Kerajaan Inderagiri. Mereka pun bersumpah: "Tiada boleh akal
buruk, budi merangkak, menggunting dalam lipatan, memakan darah di
dalam, makan sumpah 1000 siang 1000 malam. Ke atas dak bapucuk ke bawah
dak baurat. Dikutuk Kitab Al-Qur'an 30 juz." Di bawah pimpinan Tiga
Beradik, Tiga Lorong berkembang menjadi desa yang maju, rakyatnya hidup
makmur, tentram, damai dan sentosa.
Dengan demikian, jelaslah bahwa desa Baturijal mempunyai hubungan
historis yang sangat dekat dengan kerajaan Inderagiri. Baturijal sebagai
benteng terdepan kerjaan Indragiri. Sampai sekarang masih ada hubungan
kekerabatan antara pihak Raja Inderagiri dengan penduduk desa Baturijal.
Kisah di atas disarikan dari dokumen yang dimiliki Elmustian yang
berkaitan dengan sejarah Inderagiri, wawancara dengan tetua dan Tambo
Baturijal.
Hubungan Baturijal dengan Batang Kuantan Dalam keseharian, Baturijal
tidak dapat dipisahkan dengan Batang Kuantan. Baturijal dan Batang
Kuantan sudah menyatu. Karena Batang Kuantanlah, desa Baturijal itu ada,
tumbuh dan berkembang. Di tepi-tepi Batang Kuantan, seberang
berseberangan penduduk Baturijal berdiam, sebelum pindah ke dekat jalan
raya yang disebut juga dengan lebuh. Orang Baturijal, menyebutnya pindah
ke dusun. Di Seberang, tepi selatan tempat berdiam penduduk mulai dari
Pulau Raman sampai ke Pulau Jambu. Sedangkan tepi utara, mulai dari
dekat muara Sebungkul sampai ke Padang, mendekati Pulau Baru.
Di tepi Batang Kuantan itu pula masjid raya Baturijal berdiri. Sebuah
masjid pusaka peninggalan orang tua-tua dulu, berusia 200 tahunan -
sudah berulang kali direnovasi, antara lain tahun 1927. Waktu yang
tepat, tidak ada catatan resmi. Jangankan 200 tahun yang lalu, orang
yang lahir setelah kemerdekaan, ada yang tidak dicatat. Wajar kalau
masjid tidak tercatat, kapan mulai dibangunnya. Konon di bawah masjid
itu terdapat tajau, taka atau tempayan berisi mas.
Ketika penulis masih kecil, belajar mengaji di rumah Bapak Haji
Saleh, persis di dekat Gaung Kecil, pernah diceritakan, kalau tajau itu
keluar bergolek-golek di Gaung Kecil apabila hari hujan gerimis di waktu
senja. Apabila ada orang datang, ia akan mencebur ke dalam air lalu
menghilang. Masih menurut cerita, kalau sempat melihat dan memukul
dengan kain besah, tajau itu pecah. Emas berserakan dan boleh diambil
sehingga menjadi kaya raya. Karena ingin kaya, setiap gerimis waktu
senja sengaja penulis ke tepian, tidak ada rasa takut, melihat, menunggu
dengan harapan bertemu dengan tajau.
Di sebelah timur Masjid ada sebuah kolam, untuk tempat berwudhu' atau
sekadar mencuci kaki. Aimya yang agak keruh, ditutupi tumbuhan air,
kiambang kecil. Jama'ah lebih senang turun berwudhu' ke Batang Kuantan.
Padahal, ketika musim kemarau, tebing itu benar-benar tinggi. Jama'ah
yang ingin mengambil wudhu', harus menuruni paling tidak 20 anak tangga.
Induk tangga dipilih dari batang nio yang paling tinggi. Itu sebabnya
tebing itu disebut dengan tebing tinggi.
Di tepi Batang Kuantan itu terdapat pasar, tepatnya dekat Teluk
sekarang. Agak ke hulu dari tebing tinggi sebelum anak sungai Alur.
Pasar ini tidak berkembang dan tutup dengan sendirinya, karena penduduk
banyak yang pindah ke dekat jalan raya. Tambahan pula daerah Teluk itu
selalu terendam pada musim banjir setiap tahun. Padahal tempatnya
strategis, di tepi Batang Kuantan dan ada teluk, mirip pelabuhan, tempat
motor singgah. Pasar di dekat jalan raya pun tidak bertahan lama.
Bangunannya menjadi usang sehingga dikenal dengan pasar usang. Pasar,
mati dengan sendirinya, padahal sudah diberi jatah pada hari Ahad.
Padahal pasar atau lebih dikenal dengan pekan karena dilakukan sekali
sepekan, sangat strategis. Pekan Sabtu di Peranap, mudik sedikit, pekan
Ahad di Baturijal, kemudian terus mudik lagi, pekan Senayan - hari Senen
- di Cerenti, Selasa, kembali ke Silunak.
Batang Kuantan sangat bersahabat dengan penduduk Baturijal. Jarang
memakan korban. Seingat dan sepengetahuan penulis, hanya seorang anak
kecil yang pernah menjadi korban. Kabarnya, ia terjun loncos, sedangkan
di bawah tanah berlumpur. Untuk melepaskan kaki dari benaman tanah
berlumpur memerlukan waktu, sehingga kekurangan oksigen untuk bernapas.
Kedua seorang dewasa, pendatang yang memang tidak bisa berenang. Orang
yang bernama Maban itu naik perahu, kebetulan perahunya lengga, ia pun
jatuh tercebur hanyut dan tenggelam. Baru ditemukan beberapa hari
kemudian tersangkut di tunggak, sudah tidak bemyawa lagi dan membusuk.
Batang Kuantan ini banyak memberi inspirasi dan memberi warna
kehidupan penduduk desa Baturijal. "Malam cuaca, di Batang Kuantan. Air
mengalir, berkilau-kilauan ", merupakan sebagian syair sebuah lagu.
Lagu yang sangat popular tahun 1950-an. Sering dinyanyikan sambil
duduk santai di halaman masjid, di atas balai dari buluh di bawah batang
mempelam, sambil melihat buih dan kapa - batang kayu lapuk dan sampah
hanyut. Bagi yang tidak terbiasa bernyanyi, ada pantun.
Baturijal airnya sejuk, tempat mandi bersama-sama. Adik yang tinggal jangan merajuk, Abang yang pergi takkan lama
Sayang lagu dan pantun itu sekarang tidak pernah kedengaran lagi.
Desa Baturijal Ikut Berjuang ! Meskipun desa Baturijal merupakan desa
kecil dan terpencil, namun selama masa penjajahan Belanda dan Jepang,
penduduk Baturijal mempunyai andil dalam merebut dan mempertahankan
kemerdekaan Indonesia. Dipelopori dan dipimpin oleh alim ulama, seperti
H. Abdul Majid, dengan gigih rakyat desa Baturijal ikut berjuang. H.
Abdul Majid tewas, termasuk Anas dan anak muda Syafii. Bagi Belanda,
rakyat Baturijal dikenal sebagai pemberani, menyebabkan Belanda merasa
geghun.
Daghoko ada empat orang Wali Negeri yang meletakkan fondasi tatanan
masyarakat dan memimpin desa Baturijal yaitu; Khalil Alie, Mohamad Nuh,
Raja Eman dan Saidina Ali. Pada waktu itu, sebagai Camatnya Yakub
Syarif, lebih dikenal dengan panggilan Camat Yasabari. Mereka itulah
yang memimpin penduduk Baturijal.
Di jalur militer dan kepolisian ada dua orang putera terbaik
Baturijal ikut berjuang. Mereka sempat menapak pangkat sebagai perwira.
Thoha Hanafi, melepaskan pangkatnya Letnan Kolonel, karena ingin menjadi
pengusaha kaya. Sebagai pengusaha, tidak tertutup kemungkinan untuk
menjadi orang kaya, sedangkan sebagai perwira TNI, tidak mungkin kaya
dari gaji. Demikian pikiran Thoha Hanafi. Kemudian Thoha Hanafi
mendirikan perusahaan ekspor impor di Rengat. Usaha di Rengat tidak
memuaskan, maka ia pindah ke Jakarta.
Ironi sekali, Thoha Hanafi di hari tuanya, tidak sesuai rencana
menjadi orang kaya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ia kembali ke Riau
menjadi kontraktor. Order yang didapatkan dari Guberaur Riau, tidak
lain dari mantan bawahannya. Seorang bawahan Thoha Hanafi, Subrantas
sempat menjadi Jenderal dan menjadi Gubernur di Riau. Kolega dia Marah
Halim juga menjadi Jenderal dan menjadi Gubernur Sumatera Utara.
Nyatanya sekarang justru Jenderal banyak yang kaya, di luar perhitungan
Thoha Hanafi.
Melalui jalur kepolisian, putera Baturijal Mahadan sempat menjadi
Mayor Polisi, sampai pensiun di Pekanbaru. Kemudian, Rusli adik kandung
Mahadan, masuk tentara sebagai anggota korp musik. Tak sempat menjadi
perwira dan tidak banyak berhubungan dengan senapan, hanya peniup
terompet.
Pada tahun 1957 terjadi pemberontakan PRRI, yang dilakukan oleh Dewan
Banteng di bawah pimpinan Letnan Kolonel Ahmad Husein. Beberapa
pemimpin Baturijal, ikut masuk hutan bergabung dengan PRRI. Desa
Baturijal stagnan, seperti anak ayam kehilangan induk. Hidup dalam
suasana mencekam, takut dikatakan sebagai mata-mata pemberontak.
Iring-iringan truk yang membawa ientara pusat yang diturunkan di
lapangan terbang Simpang Tiga, Pekanbaru, melewati desa Baturijal.
Penduduk semakin tertekan. Gerak-gerik penduduk diawasi dengan ketat.
Keluar malam dibatasi, memakai senter pun dilarang. Menghidupkan radio
hati-hati, apalagi mendengarkan siaran propaganda PRRI yang dipancarkan
dari hutan belantara. Untuk menjaga keamanan, di Kecamatan Peranap
ditempatkan Mobbrig, sekarang Brimob. Suasana semakin mencekam. PRRI,
berpusat di Sumatera Barat, menyebabkan hubungan dengan daerah Sumatera
Barat putus. Pelajar Baturijal yang menuntut ilmu di sana terkurung, tak
bisa pulang. Di antaranya ada yang ikut masuk hutan, misalnya A.
Haitami, ikut PRRI. Sejak itu pelajar-pelajar Baturijal tidak dapat lagi
melanjutkan pendidikan ke Sumatera Barat. Kiblat pelajar mulai pindah
ke pulau Jawa, Jakarta, Yogya dan Solo.
Setelah Pemerintah Pusat, memberikan pengampunan, anggota PRRI yang
berada dalam hutan, satu persatu keluar kembali hidup bergabung dengan
masyarakat. Setelah di luar, perlu adaptasi, mencari dan membuat
pekerjaan sendiri untuk menopang biaya hidup secara normal. Sebagian
besar, mulai dari nol lagi.
Pasang Surut Desa Baturijal di Masa Lalu Baturijal juga tak terlepas
dari masa susah, masa paceklik. Untuk mendapatkan beras ransom dengan
menggunakan kupon. Orang-orang tua menyebutnya masa kupon. Rakyat
dibatasi membeli kebutuhan pokok. Ada uang pun tetap sulit, barangnya
tidak ada. Kemudian pada zaman penjajahan Jepang, penduduk Baturijal
banyak yang kelaparan. Tanaman padi selalu gagal. Kalau tidak diserang
hama, terkena banjir. Untuk mengganti beras, penduduk makan sagu.
Lompong sagu menjadi makanan pokok. Supaya kenyang, setelah makan
lompong sagu, minum air yang banyak, sagu mengembang dalam perut.
Sedangkan pisang tidak sempat taniso, sudah ditebang sebelum cukup tua.
Ubi kayu dan ubi jalar, tak sempat berisi, sudah dimakan menso.
Baju terbuat dari goni atau paling mewah belacu. Pada waktu itu oleh
penjajah Jepang, tumo, tungau dan kepinding sengaja dibiarkan berkembang
biak. Saluk-saluk tilam dan bucu-bucu kelambu, penuh dengan kepinding
dan telurnya memutih. Ketika tilam dialai, telurnya menetas, semakin
banyak anak kepinding, membuat tidur semakin tidak nyaman.
Tanggal 17Agustus 1945, Indonesia merdeka. Dengan mendapat
kemerdekaan tidak langsung hidup menjadi sejahtera. Belanda tidak rela
Indonesia merdeka, terjadilah agresi pertama dan kedua. Rakyat tetap
sengsara. Selain makan sagu juga makan bulgur yang didatangkan dari
Amerika. Di sana bulgur untuk makanan ternak, di Indonesia dijadikan
makanan pokok penduduk. Harga getah tidak mencukupi untuk membeli beras.
Bagi pegawai dalam hal ini guru - beberapa orang, lumayan ada beras
jatah, meskipun berasnya berkapang dan bau apak. Bahan pokok lain
termasuk minyak tanah langka dan harus antri untuk membeli. Kehidupan
pada waktu itu sangat suram, terbayang dari wajah yang selalu muram.
Tidak ada terlihat gelak dan tawa.
Masa-masa sulit itu akhirnya dapat juga diatasi, seperti halnya,
badai pasti berlalu. "Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."
(Q.S. Alam Nasyrah, 94; 6). Datang masa-masa senang dan sejahtera.
Harga getah membaik, padi berhasil. Hari-hari yang bersejarah
diperingati untuk menghormati para pahlawan dan suhada. Bermacam-macam
cara memperingatinya, namun yang berkesan adalah panjat batang pinang,
pacu goni dan pacu perahu. Rakyat bersuka cita menyukuri kemerdekaan,
sebagai Rahmat Allah swt. Di Batang Kuantan perahu berpacu, di atas
tebing, irama ketawak dan calempong - sejenis alat musik pukul berbentuk
seperti gong kecil, berkumandang mengiringi orang bersilat. Ada juga
kesenian randai dan memainkan alat musik genggong yang bergetar dekat
mulut. Gendang baghegung, berkumandang membuat suasana menjadi riang,
penuh tawa dan canda.
Ketika tanaman padi berhasil dan banyak kesempatan menakik
menyebabkan dompet mulai menebal, hasil dan menjual getah. Suasana desa
cerah, hidup pun bergairah. Betapa tidak, belubua penuh padi, tinggal
mengighik, jemo dan tumbuk, jadi beghas. Tinggal lauknya. Bagi yang
tidak mencari ikan, banyak yang jual keliling.
Betapa nikmatnya suasana ketika menjalani kehidupan masa kecil.
Ketika mandi masih telanjang, terjun kempul - kaki dan lutut menekuk
sebingga posisi badan menjadi bulat - di tebing Batang Kuantan dekat
muara Alur atau di gertak panjang, tidak jauh dari Simpang. Percikan
airaya tinggi. Sebaliknya ada terjun loncos, kaki dalam keadaan lurus,
tanpa pecikan air, tanpa berbunyi langsung tenggelam. Tidak boleh
berhenti mandi meskipun mata sudah merah, tangan sudah berkerut. Setiap
mau keluar dari air, satu lemparan lumpur menempel di badan, membuat
yang bersangkutan kembali terjun membasuhnya. Berarti hams lebih lama
lagi mandi. Diulangi lagi dengan cara sembunyi-sembunyi naik ke darat,
teman lain dengan mengintip, siap melemparkan tanah lumpur, sehingga
membuat berlepotan. Mau tak mau terjun lagi, mandi lagi. Budak-budak
jantan bermain bedil-bedilan menggunakan bunga jambu atau kertas yang
dibasahi membuat gumpalan-gumpalan atau buah mensigho sebagai peluru,
membuat bedil meletup. Suara bedil meletup begitu merdu terdengar di
telinga. Waktu itu masih memakai seghewal katuk tanpa baju.
Paling-paling dilengkapi kain sarung yang dikalungkan pada kuduk membuat
angka delapan. Ketika musim duku, kulitnya dijadikan peluru untuk
bermain perang-perangan. Hanya bermodalkan kojai, sudah dapat bermain
perang-perangan dengan asyik.
Budak-budak batino dengan berjingkrak-jingkrak bermain lera dengan
menggunakan tuju dari pecahanpinggan yang berbunga indah. Lincah penuh
gelak tawa. Atau bermain saghembas menggunakan batu-batu kecil sebagai
taruhan. Tangan-tangan mungil begitu lincah memainkan perannya
membalik-balikkan telapak tangan, melambungkan batu-batu kecil dan
menangkapnya. Sungguh indah permainan yang sangat sederhana tetapi penuh
makna.
Belum lagi, gelak tawa ketika anak remaja bermain wing tatkala bulan
purnama setelah musim menuai. Sedangkan yang lebih dewasa atau ibu-ibu
masih neneruskan menumbuk padi yang belum selesai ketika senja
mendatang. Harus berhenti ketika waktu maghrib suara bang, berkumandang.
Memenuhi panggilan Maha Pencipta yang telah memberi rezeki. Menumbuk
dengan hentakan antan sekali-sekali bertingkah pada tepi lesung
terdengar merdu ke mana-mana. Suara tingkahan antan itu menandakan di
sana ada anak gadis membantu menumbuk atau menampi, mengundang bujang
untuk berkunjung datang.
Pada malam hari sering diadakan pertunjukan joget. Dua orang
laki-laki, E. Mohir dan Lahmudin memerankan sebagai wanita, berkebaya
dan berkacamata hitam, duduk di kursi di halaman rumah tempat terbuka.
Apabila hujan langsung bubar. Penari lain ada juga, tetapi pasangan E.
Mohir dan Lahmudin merupakan artis favorit. Terutama Lahmudin yang
berperawakan kurus, lemah gemulai. Berjoget cukup diiringi oleh biola,
gendang dan gong. Lagunya, lagu melayu yang berirama joget untuk
mengiringi, seperti TanjungKatung, HitamManis ztauAnakKala. Ketika ada
lelaki yang mau mengibing, harus membayar terlebih dulu. Orkes
dimainkan, kemudian mendatangi tempat duduk penari dan mengajaknya
berjoget. Semakin larut malam, suasana semakin ramai. Anak-anak, bebas
menonton dengan asyik, lupa besok harus ke sekolah.
Pada masa-masa senang itu banyak bujang dan gadis melangsimgkan
pernikahan, membangun rumah tangga. Pengantin baru hilir mudik
menjinjing si 'a berisikan penganan, buatan sendiri diantarkan ke rumah
mertua. Mertua senang tidak alang kepalang. Merasa kebahagiaan
tersendiri, menerima penganan dari menantu. Sedangkan bujangan yang
belum menikah, juga asyik hilir mudik seperti kumbang mencari bunga
tempat hinggap. Bujangan mendatangi budak batino, mengapa lagi kalau
tidak mengurat. Suasana sangat ceria, riang dan gembira. Hari-hari penuh
bahagia.
Sumber: Elmustian Rahman dan Tarmizi Yusuf. 2012. "Ensiklopedi
Baturijal". Pekanbaru: Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan
Universitas Riau.
MOHON MAAF JIKO ADO NEN SALAH
MOHON MAAF JIKO ADO NEN SALAH




Tidak ada komentar:
Posting Komentar